Minggu, 21 Maret 2010

Guru dan Pegawai Bertikai, UN Tertunda


TEMPO Interaktif, Kupang - Keributan yang terjadi antara guru dan pegawai di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat terlambat pelaksanaan Ujian Nasional di sekolah tersebut, Senin (22/3). Keterlambatan yang terjadi hanya setengah jam dan ujian akhrinya berjalan dengan lancar.

Ketua Panitia Ujian Nasional, I Nyoman Marteyase dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, membenarkan adanya keributan itu. "Tapi tidak ada kaitan antara perkelahian itu dengan Ujian Nasional karena keributan disebabkan urusan pribadi antara guru dan pegawai itu," kata Nyoman.

Nyoman menegaskan telah mencek langsung permasalahan tersebut dan tidak menemukan masalah lain terkait pelaksanaan Ujian Nasional. “Saya juga tanyakan tentang kekurangan soal, tetapi tidak ditemukan," kata dia.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, bersyukur karena menilai pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini aman dan lancar. “Lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata dia usai memantau pelaksanaan ujian itu di sejumlah sekolah di Kota Kupang. YOHANES SEO

Lima Pasang Calon Ikut Pilkada di Sumba Timur


TEMPO Interaktif, Kupang - Sebanyak lima pasangan calon bakal bertarung dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Sumba Timur. Kelimanya telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat. "Berdasarkan laporan KPUD sebanyak lima pasangan calon yang telah mendaftar ikut Pilkada Sumba Timur," kata Bupati Sumba Timur, Gideon Mbilijora di Kupang, Senin (22/3).

Lima pasangan calon tersebut, yakni Gideon Mbilijora-Matheus Gitu yang diusung partai Golkar, Pindi Ngadana-Kaburang diusung partai Demokrat, Umbu Manggana-Kristofel Priyang diusung PDIP dan Gerindra.

Paangan calon lainnya, yakni Lukas kaborang-Rambu Lika yang diusung PDK dan partai non seat serta Imanuel Babhu Eha-Umbu Hapu yang diusung partai Hanura dan partai non seat. "Dari semua paket yang maju tidak ada paket yang melalui jalur independen," katanya.

KPU setempat masih melakukan verfikasi dan meneliti berkas pasangan calon yang mendaftar untuk dilengkapi, bagi yang masih kurang. Namun, ia pastikan kelima pasangan calon ini akan bertarung di pilkada Sumba Timur.

Dia mengakui, kelima pasangan calon yang telah mendaftar ke KPU juga telah melakukan tes kesehatan. "Lima pasangan calon yang hampir pasti ikut pilkada ini juga telah menjalani tes kesehatan," katanya.

Menariknya, dari lima calon yang mendaftar terdapat seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Emanuel Babhu Eha dan seorang wanita yakni Rambu Lika. YOHANES SEO

Sabtu, 20 Maret 2010

Jumlah Dokter Di Kupang Kurang


TEMPO Interaktif, Kupang -Pemerintah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih kekurangan sebanyak 48 dokter untuk melayani 302.000 penduduk di daerah tersebut.

"Kita hanya miliki 27 dokter saja, sehingga masih kekurangan sekitar 48 dokter lagi untuk melayani masyarakat di daerah ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Messe Ataupah kepada wartawan di Kupang, Minggu (21/3).

Jumlah dokter di Kabupaten Kupang hanya sebanyak 27 orang, terdiri dari dokter PNS sebanyak empat orang dan dokter Praktek Tidak tetap (PTT) sebanyak 23 orang. 27 dokter tersebut adalah dokter umum, tanpa dokter spesialis.

Sedangkan jumlah perawat sebanyak 145 orang dan bidan 161 orang. Dengan jumlah yang terbatas ini pihaknya kewalahan mendistribusikan dokter, perawat dan bidan ke 177 desa di daerah ini. "Saya harus memeras otak agar semua masyarakat di daerah ini dapat terlayani dokter, perawat atau bidan," katanya.

Idealnya, menurut dia, seorang dokter hanya melayani 4000 masyarakat, sedangkan seorang perawat melayani 100 lebih masyarakat. Namun, kenyataannya, seorang dokter harus melayani sedikitnya 11.000 masyarakat di daerah ini.

Untuk menutupi kekurangan tenaga medis tersebut, tambahnya, pemerintah daerah menyekolahkan putra-putri berprestasi ke sekolah-sekolah kesehatan. "Diharapkan anak-anak itu bisa melayani masyarakat atau keluarga mereka sendiri," katanya. YOHANES SEO

Persiapan Ujian Nasional di NTT 100 Persen


TEMPO Interaktif, Kupang - Ketua Panitia Pelaksanaan Ujian Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), I Nyoman Martayase, mengatakan bahwa persiapan pelaksanaan UN di wilayahnya sudah selesai. "Kami sudah siap menggelar ujian nasional Senin (22/3), karena persiapan di lapangan sudah 100 persen," kata Marteyase yang dihubungi di Kupang, Sabtu (20/3).

Pendistribusian soal ke sekolah-sekolah telah dilaksanakan. Bahkan, laporan kekurangan soal dari beberapa kabupaten/kota sudah dilengkapi oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT.

Pendistribusian soal ujian nasional itu, lanjutnya, mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Hal itu guna mengantisipasi bocornya soal UN. "Soal baru boleh dibuka saat UN nanti. Sekarang soal-soal itu masih dalam pengawasan polisi," katanya.

Kekurangan dana sekitar Rp 2 miliar lebih juga sudah teratasi dengan membatalkan kegiatan-kegiatan yang dianggap tidak terlalu penting, seperti sosialisasi. "Kami fokus pada penggandaan dan pendistribusian soal ke kabupaten dan kota," kata Martayase sambil menambahkan kalau kekurangan dana itu tidak membuat sekolah-sekolah melakukan pungutan.

Ujian Nasional di NTT Senin nanti akan diikuti 232.673 siswa, terdiri dari SMA 36.495, SMK sebanyak 11.889, SD sebanyak 111.088 dan SMP 74.211 siswa.YOHANES SEO

Jumat, 19 Maret 2010

Diduga Aniaya Pemilik Kos, Enam Mahasiswa Kupang Ditangkap


TEMPO Interaktif, Kupang - Sebanyak enam mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditahan Kepolisian Sektor Kelapa Lima. Mereka diduga menganiaya pemilik kos hingga lengan kanan korban patah.

Pengeroyokan ini terjadi di Kelurahan Merdeka, Kota Kupang, Sabtu (20/3), setelah korban Fransiskus Gay, 23 tahun, menegur anak kos yang membuat keributan. Merasa tersinggung dengan teguran itu, sejumlah mahasiswa mengeroyok korban.

Akibat pengeroyokan, orang tua korban mendatangi Kepolisian Sektor Kelapa Lima melaporkan kejadian tersebut. Dalam waktu singkat polisi menangkap enam mahasiswa yang diduga pelaku pengoroyokan tersebut.

"Saya dikeroyok oleh mahasiswa di kos-kosan saya, karena saya menegur salah seorang mahasiswa yang buat keributan," kata korban, Fransiskus Gay, di Kupang.

Pengeroyokan tersebut berawal seorang mahasiswa, Ju, yang mendatangi tempat kos mahasiswa Ag untuk bertemu pacarnya untuk suatu urusan. Namun, entah mengapa Ju dengan sang pacar terlibat pertengkaran.

Mendengar keributan itu, ia sebagai pemilik kos menegur Ju dengan pacarnya agar tidak membuat keributan dan meminta Ju segera meninggalkan tempat kos tersebut. "Saya minta dia (Ju) meninggalkan kos-kosan itu, karena membuat keributan," kata Frasiskus Gay.

Tersinggung dan malu dihardik di hadapan pacarnya, Ju langsung memukul korban. Perkelahian antara korban dengan Ju tak terelakkan. Dalam waktu yang bersamaan lima teman Ju ikut mengeroyok korban. Akibat pengeroyokan tersebut lengan kanan korban mengalami patah tulang.

Melihat korban terkapar dengan lengan patah, Ju bersama lima rekannya kabur. Berselang beberapa jam kemudian aparat Polsek Kelapa Lima berhasil menciduk keenam orang yang diduga mengeroyok korban. Mereka semua masih berstatus mahasiswa tersebut.

Wakil Kepala Kepolisian Sektor Kota Kelapa Lima Brigadir Kepala Doni Sigakole mengatakan pihaknya telah menangkap orang yang diduga mengeroyok korban, dan kini mereka ditahan di Polsek Kelapa Lima untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. "Kita sudah tahan pelakunya untuk diproses sesuai hukum yang berlaku," katanya.

Keenam mahasiswa itu dijerat Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Pengeroyokan dan Penganiayaan dengaan ancaman hukuman lima tahun penjara. YOHANES SEO

TNI-Rote Ndao Bikin Monumen di Pulau Ndana

TEMPO Interaktif, Kupang - TNI berencana membangun monumen di Pulau Ndana, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Monumen ditujukan sebagai penanda agar tidak ada klaim lagi dari negara lain terutama Australia terhadap kepemilkan pulau di ujung selatan Indonesia itu.

"Saya pastikan pembangunan monumen titik selatan Indonesia itu akan dilaksanakan 2010 ini," kata Komandan korem (Danrem) 161 Wirasaksti Kupang, Kolonel Inf Dody Usodo Hargo, Sabtu (20/3).

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao telah mengusulkan tiga nama pahlawan untuk monumen itu nantinya, yakni Prof. WZ Johanes, Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Pancasila Sakti. Dari ketiganya, TNI telah memilih nama Jenderal Soedirman.

Patung atau monumen saat ini masih dalam tahap pemesanan dari Muntilan, Jawa Tengah. "Diharapkan pembangunannya selesai tahun ini," kata Dody.

Bupati Rote Ndao, Lens Haning, mengungkapkan kalau masyarakat Rote Ndao sudah menantikan pembangunan monumen titik selatan itu. Bahkan pemerintah setempat sudah menganggarkan pembangunan monumen tersebut dalam APBD 2010.

Pembangunan monumen ini seharusnya sudah dilaksanakan sejak akhir tahun 2009 lalu. Pembangunan tertunda hanya karena adanya perbedaan nama yang diinginkan oleh pemerintah daerah dan TNI. YOHANES SEO

Imigran Afghanistan Tolak Kembali ke Negaranya


TEMPO Interaktif, Kupang -Imigran gelap asal Afghanistan yang terdampar di Pulau Raijua, Kabupaten Sabu Raijua Nusa Tenggara Timur meminta agar Polisi Indonesia melepas mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Australia, karena mereka menolak dikembalikan ke negaranya.

"Kami tidak ingin kembali ke negara kami, karena kami ingin mencari kedamaian," kata Abbas, 33 tahun, salah seorang imigran di Kupang, (19/3). Sebanyak 66 imigran gelap yang semuanya laki-laki, malam tadi dievakuasi oleh Polisi Air Polda NTT dari kabupaten Sabu Raijua ke Kupang untuk selanjutnya dideportasi ke negaranya.

Menurut Abbas, ia bersama rekan-rekannya meninggalkan Afghanistan karena ingin mencari kehidupan yang lebih baik di Australia. "Di Afghanistan ada perang, tidak ada damai dan makanan. Kami ingin damai," katanya.

Ia berharap pemerintah Indonesia membolehkan mereka melanjutkan pelayaran menuju Australia, karena tidak ingin kembali ke negaranya. Selain itu, Abbas juga berharap polisi mengembalikan uang mereka secara utuh. "Polisi sita seluruh uang yang kami bawa. Banyak sekali. Kami percaya polisi Indonesia akan mengembalikan uang kami," katanya.

Sementara itu, Kepala seksi Operasi Pol Air Polda NTT, Komisaris Bayu mengatakan, sesuai hasil pemeriksaan polisi hanya satu orang yang memiliki paspor, sehingga polisi menahan mereka dengan tuduhan memasuki wilayah Indonesia secara tidak resmi.

Menurut dia, jalur imigran illegal tujuan Australia yang sebelumnya mengunakan rute Lombok-Pulau Rote-Pulau Pasir, kini dialihkan dari Sulawesi-Pulau Sabu dan Raijua-Pulau Pasir.

Ini ditandai dengan mulai berkurangnya penangkapan imigran gelap di perairan Pulau Rote sejak lima bulan terakhir. Sebaliknya, penangkapan 68 imigran itu adalah kedua kalinya, setelah sebelumnya penangkapan 55 imigran di perairan Sabu pada 13 Januari lalu.

Terkait pengalihan rute penyelundupan imigran tersebut, tambah Bayu, polisi segera menempatkan sebuah kapal patroli di perairan Sabu dan Raijua untuk mengawasi imigran. "Kita akan tempatkan kapal patroli di perairan Sabu guna mengantisipasi masuknya imigran," katanya. YOHANES SEO