Jumat, 19 Maret 2010

Ribuan Warga di Sumba Timur Terancam Kelaparan


TEMPO Interaktif, Kupang - Ribuan warga di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terancam kelaparan. Hal itu terjadi akibat gagal panen yang melanda 121 desa di daerah tersebut. "Ada 121 desa yang terancam rawan pangan karena gagal panen," kata Bupati Sumba Timur, Gideon Mblijora di Kupang, Jumat (19/3).

Masalah ancaman rawan pangan ini, menurut Gideon, sudah melanda Sumba Timur sejak akhir 2009 lalu. Kala itu, setelah dilakukan identifikasi, ditemukan terdapat sebanyak 35 desa yang terancam rawan pangan.

Sedangkan identifikasi pada tahun 2010, ia melanjutkan, terdapat 121 desa yang terancam rawan pangan. Bencana ini terjadi karena curah hujan di daerah tersebut sangat minim. "Hujan terakhir turun akhir Januari lalu, setelah itu tidak pernah turun lagi," kata Gideon.

Jika tak segera mendapat bantuan, rawan pangan di kabupeten tersebut akan berakibat terjadinya kelaparan bagi seribu lebih warga yang berada di 121 desa itu. "Sekitar seribu lebih warga yang terancam kelaparan di daerah itu," kata Gideon.

Untuk mengatasi masalah itu, katanya, pihaknya telah menyalurkan beras bantuan kepada warga sebanyak 100 ton yang dikelola pemerintah daerah. Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan dana tak tersangka (DTT) sebesar Rp3 miliar untuk membantu masyarakat tersebut.

Tak hanya itu, pihaknya juga telah meminta bantuan beras ke Gubernur NTT melalui Dinas Sosial Provinsi NTT sebanyak 800 ton dan 100 unit mesin pompa air. Pemerintah Sumba Timur juga meminta bantuan pompa air ke Kementrian Pertanian sebanyak 250 unit untuk membantu petani di Sumba. "Namun, semuanya belum terealisasi," kata Gideon.

Hambatan lain, ia melanjutkan, "Saya mendapat laporan dari Kapala Dinas Pertanian bahwa bantuan beras dari Pemprov NTT ditahan oleh Komisi D DPRD NTT. Komisi D minta penyalurannya dilakukan setelah pilkada. YOHANES SEO

Polisi Sita Uang Imigran Afganistan

TEMPO Interaktif, Kupang - Kepolisian daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyita sejumlah uang dan handphone (HP) milik imigran gelap asal Afghanistan yang terdampar di Pulau Raijua, Kabupaten sabu Raijua, Nusa Tenggara timur (NTT).

"Uang dan HP yang disita untuk kepentingan penyelidikan, sehingga kami belum bisa sampaikan total dana yang disita polisi," kata juru bicara Polda NTT, Okto Riwu saat dihubungi Tempo di Kupang, hari ini.

Menurut dia, imigran yang terdampai di Raijua telah dititipkan di rumah detensi imigrasi (Rudenim) untuk diproses. Pihak kepolisian sendiri, sedang menyelidiki imigran gelap tersebut.

Ditanya soal permintaan imigran agar dilepas ke Australia. Okto mengatakan, untuk melepas imigran tersebut bukan merupakan kewenangan polisi, namun imigrasi. "Sah-sah saja, kalau mereka minta untuk dilepas, tetapi itu kewenangan imigrasi, bukan polisi," katanya.

Kepala Divisi imigrasi Kanwil Hukum dan Ham NTT, Rindang Napitupulu mengatakan, para imigran yang dievakuasi dari Raijua telah dititipkan di Rudenim kupang untuk selanjutnya diproses untuk dievakuasi.
"Saya sudah perintahkan staf untuk menempatkan imigran tersebut di Rudenim untuk diproses deportasinya," ujarnya.

Sebelumnya, Abbas, 33 tahun, salah seorang imigran meminta kepada polisi untuk melepaskan mereka Australia untuk mencari kehidupan yang lebih damai. "Kami tidak ingin kembali ke negara kami, karena di negeri sedang perang. Kami ingin mencari kedamaian," katanya.

Ia juga meminta polisi mengembalikan uang mereka yang telah disita secara utuh. "Polisi sita seluruh uang yang kami bawa. Banyak sekali. Kami percaya polisi Indonesia akan mengembalikan uang kami," ujar Abbas. YOHANES SEO

Kamis, 18 Maret 2010

Dua Imigran Asal Afghanistan Masih Buron

TEMPO Interaktif, Kupang - Dua dari 68 imigran yang terdampar di Pulau Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini, masih dalam pengejaran polisi. Keduanya kabur saat kapal mereka kehabisan bahan bakar dan dihantam gelombang.

Kepala Bagian Operasional Pol Air Polda NTT, Komisaris Bayu menyatakan dari 68 imigran gelap asal Afghanistan yang terdampar di Raijua sejak Selasa (16/3) lalu itu, hanya 66 imigran yang dievakuasi ke Kupang. Sedangkan dua imigran sisanya masih buron.

"Kedua imigran tersebut kabur ke dalam hutan di Raijua. Polisi di Raijua masih memburu dua imigran yang berhasil kabur tersebut," kata Bayu di Kupang, Jumat (19/3). Kedua imigran tersebut berhasil kabur, setelah turun dari kapal untuk mencari bahan bakar di Pulau Raijua.

Pol Air Polda NTT, tadi malam, telah mengevakuasi sebanyak 66 imigran gelap bersama dua Anak Buah Kapal (ABK) asal Sinjae, Makasar yang hendak membawa imigran tersebut ke Australia. Polisi mengevakuasi para imigran tersebut menggunakan kapal polisi Pinguin dengan nomor lambung 644. Setelah tiba di Kupang, ke-66 imigran gelap itu diangkut ke Markas Polda NTT untuk diserahkan kepada pihak imigrasi guna dideportasi kembali ke negara asalnya

Saat ini, pelaku penyelundupan imigran gelap menggunakan rute baru mengantar imigran ke Australia, yakni melalui Pulau Sabu Raijua, sebelumnya melalui Pulau Rote. Pengalihan ini, menurut polisi, karena penjagaan di Rote mulai diperketat.YOHANES SEO

68 Imigran Gelap Afghanistan Dievakuasi dari Raijua

TEMPO Interaktif, Kupang - Sebanyak 68 imigran gelap asal Afghanistan dan dua orang Anak Buah Kapal (ABK) perahu kayu yang mengangkut imigran dievakuasi dari Pulau Raijua, Kabupaten Sabu Raijua menuju Kupang.

"Imigran gelap tersebut diberangkatkan dari Pulau Raijua pukul 10.00 Wita dan tiba di dermaga Pol Air Bolok, Kupang sekitar pukul 17.30 Wita,' kata Direktur Polisi Air Polda NTT, Komisaris Besar Amir Racham Lubis yang dihubungi di Kupang, hari ini.

Menurut dia, setelah tiba di Kupang, para imigran tersebut diserahkan ke pihak Imigrasi untuk selanjutnya ditampung di rumah tahanan imigrasi (Detensi) Kupang.

Imigran gelap yang seluruhnya laki-laki tersebut, sempat diamankan di Pos polisi (Pospol) Raijua. Sedangkan, dua ABK kapal kayu yang kabur telah ditangkap dan turut serta dievakuasi ke Kupang.

Setelah mendapat informasi terdamparnya sebanyak 68 imigran gelap di Desa Kolorae, Pulau Raijua, Pol Air langsung menerjunkan tim menjemput para imigran tersebut.

Selasa (16/3), ebanyak 68 imigran asal Afghanistan, terdampar di Pulau Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, setelah perahu yang ditumpangi mereka dihantam gelombang dan kehabisan bahan bakar saat berlayar menuju Australia.

Sebelumnya, pada 13 Januari lalu sebanyak 55 imigran asal Afghanistan dan Turki juga terdampar di daerah tersebut, ketika hendak mencari suaka ke Australia. YOHANES SEO

Danrem Bantah Warga Eks Timtim Minta Suaka ke Portugal

TEMPO Interaktif, Kupang - Komandan Korem 161 Wirasaksti Kupang, Kolonel Inf. Dody Usodo Hargo membantah adanya permintaan suaka ke Portugal sebanyak 396 warga eks Timtim di Desa Tuapukan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Tidak benar adanya permintaan suaka dari warga eks pengungsi Timtim," kata Danrem Dody di Kupang, Kamis (18/3).

Menurut dia, pihaknya telah melakukan pengecekan di Desa Tuapukan, Kabupaten Kupang, dan berdasarkan pesan singkat dari salah satu tokoh masyarakat eks pengungsi Timtim bahwa informasi permintaan suaka itu, tidak benar.

"Permintaan itu hanya merupakan sikap kekecewaan dari seorang warga eks Timtim untuk mencari perhatian pemerintah," katanya.

Apalagi, lanjut Danrem, permintaan suaka itu dikaitkan dengan tidak kebagiannya warga eks pengungsi Timtim di Kamp Tuapukan yang tidak kebagian rumah sangat sederhana bantuan pemerintah. "Permintaan suaka itu dikaitkan dengan bantuan rumah bagi mereka (Warga eks Timtim) itu juga tidak benar," katanya.

Dia menambahkan, permintaan suaka dari warga eks Timtim muncul saat digelarnya pertemuan antara warga eks Timtim dan warga lokal terkait hilangnya seorang warga eks Timtim.

"Dalam pertemuan itu, seorang warga eks Timtim mengatakan, jika aparat tidak serius tangani masalah ini, maka sebaiknya kita minta suaka saja," katanya.

Sebelumnya, sebanyak 396 warga eks Timtim yang masih bermukim di kamp pengungsi di Desa Tuapukan akan meminta suaka ke Portugal, karena kurang mendapat perhatian dari pemerintah. YOHANES SEO

Polisi Cegah Masuknya Teroris ke Nusa Tenggara Timur

TEMPO Interaktif, Kupang - Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Kombes Yory Yance Worang mengatakan pihaknya sudah mengantisipasi masuknya teroris ke daerah ini.

"Saya sudah perintahkan anggota saya untuk mengawasi masuk keluar orang di daerah ini," kata Yance Worang di Kupang, Kamis (18/3).

Bahkan, menurut dia, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan pemerintah hingga tingkat kelurahan dan RT untuk mengawasi masuk keluar orang asing di wilayah itu. Pengawasan dilakukan di setiap pintu masuk, seperti bandara dan pelabuhan. "Pengawasan teroris sudah dilakukan hingga tingkat kelurahan dan RT," katanya.

Dari hasil pengawasan yang dilakukan selama ini, lanjut dia, pihaknya belum menemukan masuknya teroris ke NTT. "Sejauh ini kita belum temukan adanya teroris yang masuk ke NTT," katanya.

Ia berharap adanya kerjasama dari masyarakat, apabila adanya dugaan keberadaan teroris segera menyampaikan ke aparat kepolisian agar segera diantisipasi. "Harus ada kerjasama dari masyarakat untuk mengantisipasi masuknya teroris," katanya.

Peningkatan pengawasan terhadap teroris di NTT karena wilayah ini berbatasan langsung dengan dua negara, yakni Timor Leste dan Australia. YOHANES SEO

Ratusan Siswa di Flotim Terancam Tidak Ikut Ujian Nasional


TEMPO Interaktif, Kupang - Ratusan siswa kelas III SMA dan SMP di Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam tidak ikut Ujian Nasional (UN) yang akan digelar 22 Maret mendatang.

Hal itu terjadi pascaperang kampung yang terjadi antara Desa Lamahala dan Horowura pada awal Maret lalu. Ratusan siswa dari dua desa itu belajar di sekolah yang sama, yakni SMA Lamahala, di Desa Lamahala.

"Kami sedang berupaya untuk mendamaikan kedua warga desa tersebut, sehingga anak-anak mereka bisa mengikuti UN," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Flores Timur, Ankletus Taka yang dihubungi di Kupang, Kamis (18/3).

Menurut dia, Dinas Pendidikan juga telah berkoordinasi dengan SMAN I Larantuka untuk menitipkan ratusan siswa tersebut agar bisa mengikuti ujian nasional di sekolah tersebut. "Kami akan titipkan siswa kelas III ini ke salah satu sekolah di Larantuka," katanya.

Sementara itu, Kepala Urusan Kurikulum SMAN I Larantuka, Yakobus Milan mengatakan, pihaknya belum mendapat informasi dari Dinas Pendidikan tentang rencana penitipan ratusan siswa untuk mengikuti ujian nasional di sekolah itu.

Namun, menurut dia, pihaknya akan tetap menerima siswa yang akan dititipkan. Namun ia kuatir hasil ujian nasional dari siswa tersebut akan merosot, karena faktor psikologis pascakonflik di wilayah mereka. "Kami berharap siswa bisa konsentrasi mengikuti ujian nasional, walaupun secara psikologis tentunya akan mengganggu," katanya.

Dua desa di Kabupaten Flores Timur terlibat peperangan akibat sengketa tapal batas. Upaya penyelesaian yang difasilitasi oleh pemerintah daerah setempat belum menemui kata sepakat. YOHANES SEO